Bandarlampung – Ketimpangan kualitas pendidikan masih terasa nyata. Di perkotaan, anak-anak berbicara tentang kecerdasan buatan dan teknologi digital. Namun di saat yang sama, di pelosok desa dan daerah pesisir, masih banyak yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan ruang kelas yang layak, akses internet yang stabil, atau guru yang sejahtera.
Hal tersebut disampaikan Jeysica Putri Asri Rahmadhani, salah satu peserta lomba pidato AHY Muda asal Kota Bandarlampung.
Menurut Jeysica, generasi muda bukan hanya penerima masa depan, tetapi penentu arah masa depan bangsa. Dimana kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) adalah penentu mati hidupnya suatu bangsa.
“Kita tidak bisa membicarakan kemajuan ekonomi, inovasi teknologi, atau ketahanan nasional jika manusia-manusia di dalamnya tidak dibekali ilmu pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang kuat,” kata Jeysica.
Menurut putri sulung Anggota DPRD Bandarlampung Agus Purwanto ini, di tengah riuhnya pembicaraan tentang Indonesia Emas, perlu dipertanyakan, apakah pendidikan hari ini sudah benar-benar menjadi jembatan perubahan, atau justru masih menjadi tembok tebal yang memisahkan mereka yang mampu dan mereka yang tertinggal?.
“Kita harus menatap realita secara jujur dan jernih,” ujar Jeysica, yang di dalam lomba pidato AHY Muda mengangkat judul, Pendidikan yang Membebaskan, Membangun Manusia Unggul dari Akar Rumput.
Menurutnya lagi, persoalan utama SDM bukan terletak pada kurangnya potensi anak bangsa, melainkan pada ketimpangan akses dan kurikulum yang kerap tidak relevan dengan kebutuhan dunia kerja nyata.
“Pendidikan kita terlalu sering menuntut siswa menghafal rumus, namun lupa mengajarkan cara berpikir kritis, memecahkan masalah, dan beradaptasi,” ucapnya.
Untuk menjawab tantangan ini, lanjutnya, ada tiga gagasan konkrit yang harus diperjuangkan bersama yaitu, yang pertama pemerataan akses dan digitalisasi pendidikan yang inklusif. Kedua, Link and Match Education with Industry and Entrepreneurship. Kemudian yang ketiga, restorasi kesejahteraan dan kualitas guru.
“Fasilitas pendidikan berkualitas tidak boleh menjadi hak istimewa sebagian orang saja. Negara harus hadir memastikan anak di pelosok daerah memiliki hak, kualitas guru, dan akses teknologi yang sama dengan anak yang tumbuh di kota besar. Memuliakan guru adalah kunci utama mencetak generasi pemenang,” ungkapnya.
Ditambahkannya, pendidikan harus menghasilkan lulusan yang siap berkarya, bukan melahirkan pengangguran terdidik. Kurikulum sekolah dan vokasi harus adaptif, mengajarkan keterampilan digital, bahasa internasional, soft skills, hingga jiwa kewirausahaan sejak dini. (*)












