Bandarlampung – Ramadhan merupakan bulan yang paling dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah ini bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi momentum spiritual yang sarat makna.
Hal tersebut disampaikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Bandarlampung Rama Apriditya, Selasa (17/2/2025).
Pria yang juga anggota Komisi III DPRD Bandarlampung ini menuturkan, ramadhan adalah bulan ibadah, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan pembentukan karakter yang lebih baik.
“Salah satu makna utama Ramadhan adalah sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Dalam bulan ini, umat Islam memperingati turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk hidup bagi manusia,” kata Rama Apriditya.
Oleh karena itu, lanjutnya, ramadhan identik dengan meningkatnya interaksi dengan Al-Qur’an—membaca, memahami, dan mengamalkannya. Ibadah-ibadah seperti shalat tarawih, tadarus, dan i’tikaf menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memperkuat hubungan spiritual.
“Selain itu, puasa di bulan Ramadhan mengajarkan pengendalian diri,” ujarnya.
Politisi Partai Golkar ini menuturkan, menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari bukanlah hal yang mudah. Namun, di balik latihan fisik tersebut terdapat pelajaran moral yang mendalam, menahan amarah, menjaga lisan, serta mengendalikan hawa nafsu.
“Dengan demikian, Ramadhan menjadi sekolah kehidupan yang membentuk pribadi lebih sabar, disiplin, dan bertanggung jawab,” ungkapnya.
Ditambahkannya, makna Ramadhan juga tampak dalam dimensi sosialnya. Ketika seseorang merasakan lapar dan haus, ia belajar memahami penderitaan orang lain yang kurang beruntung. Dari sinilah tumbuh rasa empati dan solidaritas. Zakat, infak, dan sedekah semakin digalakkan, mempererat tali persaudaraan dan mengurangi kesenjangan sosial. Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari kepemilikan pribadi, tetapi juga dari berbagi dan memberi.
Lebih jauh lagi, ucapnya, ramadhan adalah bulan pengampunan dan pembaruan diri. Banyak orang menjadikannya sebagai momen refleksi, memperbaiki kesalahan, dan memulai kebiasaan baik. Semangat perubahan ini diharapkan tidak berhenti ketika Ramadhan berakhir, melainkan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, makna Ramadhan tidak hanya terletak pada ritual yang dijalankan, tetapi pada transformasi yang dihasilkan. Ramadhan adalah perjalanan spiritual yang mengajak manusia kembali pada fitrahnya—menjadi pribadi yang lebih beriman, berakhlak mulia, dan peduli terhadap sesama.
“Jika dijalani dengan penuh kesadaran, Ramadhan bukan sekadar bulan dalam kalender, melainkan momentum perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna,” ucapnya. (*)











